Ada sebuah ungkapan yang sebagian ulama berpendapat bahwa ini bukan Hadist Nabi yang shohih:
" Man arrofan nafsahu, faqod arrofan robbahu"
"Siapa yang kenal dirinya(nafs), niscaya dia kenal Tuhannya"
ungkapan diatas sangat singkat, tapi bisa dipahami oleh yang diberi petunjuk oleh Allah, dan bisa menyesatkan, bagi siapa yang dikehendaki Allah sesat.
Pada Kalangan penempuh jalan sufi / tasyahuf, atau tarikat, ungkapan diatas diyakini dari Hadist Qudsi.
tapi juga sangat dekat dengan kalangan penempuh ilmu kebatinan.
Anakku...
Agar kamu tidak bingung, maka papa akan jabarkan pemahaman yang papa pahami:
Barang siapa yang kenal dirinya, niscaya dia kenal Tuhannya.
Bagi kalangan ilmu kebathinan, akan menjalani pengetahuan tentang diri manusia secara jasmani, yang terdiri dari kulit, daging, urat, tulang, dan seterusnya.
sehingga pada akhirnya mereka akan meyakini bahwa dirinya itulah tuhan, jadi siapa kenal dirinya, maka dia kenal tuhannya. sehinngga tidak sedikit yang dapat memiliki kesaktian dari pemahaman seperti ini
Tapi tidak dalam pemahaman papamu ini.
Papa sudah menempuh pengajian kebathinan dan tasyahuf, dan pemahaman papa bertentangan dengan pemahaman yang demikian.
Bagaimana mengenal Allah, yaitu dengan mengenal dirimu.
Apakah kamu sudah kenal dengan dirimu sendiri?
Siapa, darimana dan mau kemana kamu?
Anakku..
Ketahuilah, bahwa makhluk bersifat "Lahaula wala quata"
" tidak punya daya dan tidak punya kekuatan".
inilah sifat diri yang sebenarnya
"Karena tidak mempunyai daya untuk berbuat baik, dan tidak pula punya kekuatan untuk tidak maksiat"
Ketika Allah mengabarkan kepada malaikat, bahwa Dia akan menjadikan / menciptakan manusia sebagai khalifah dimuka bumi, kemudian Malaikat yang selalu patuh dan taat ini bertanya kepada Allah, Mengapa engkau menciptakan sesuatu yang akan membuat kerusakan dan tumpah darah dimuka bumi...
Jadi dari sini dapat sedikit kita melihat siapa kita sebenarnya, kita hanya dapat berbuat kerusakan dan keburukan.
Jadi bila kita melihat diri, maka kita akan melihat ahli maksiat,
Kemudian apabila Allah karuniakan petunjuk, maka kita seperti ahli kebaikan.
Kita manusia hanya dapat berbuat hal yang tidak benar dan baik, manusia bersifat salah,
manusia diliputi segala perbuatan maksiat.
Kemudian Allah memberi petunjuk kepada yang dikehendakinya, dan membiarkan sesat siapa yang dikehendakinya.
Manusia yang sudah disempurnakan dengan pertolongan Allah, menjadi " Lahaula wala quata ilabillah"
"tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah".
sehingga dia menjadi orang yang berterimakasih kepada Allah,
bila kamu merasa berbuat baik / beramal sholeh, tentu kamu akan berharap mendapat balasan dari apa yang telah kamu buat, sehingga kamu terjerumus ke jurang kekufuran yang tidak kamu sadari.
Tentu masalah pahala yang dijanjikan Allah pada alQuran adalah benar bagi yang belum mengenal dirinya sendiri, seperti anak anak, ketika anak anak dibujuk untuk belajar giat dengan janji akan diberi hadiah apabila memiliki nilai yang bagus, sehingga anak tsb belajar dengan semangat, padahal manfaat dari belajar itu adalah untuk dirinya sendiri, tapi karena dia belum mengerti, maka orang tua meiming imingi hadiah tsb, tapi setelah dia dewasa dan tahu bahwa belajar itu untuk dirinya, tentu tidak ada sedikitpun dia berharap hadiah dari orang tuanya, tapi justru berusaha untuk menyenangkan hati orangtuanya.
Demikian pula bagi orang yang baru belajar islam, pada awalnya dia diberikan ilmu tentang manfaat berupa pahala ketika melaksanakan shalat, sebab shalat bagi orang yang baru adalah sebuah beban, tapi ketika dia tau bahwa shalat itu adalah untuk dirinya sendiri, tentu dia sangat semangat melaksanakannya.
Kemudian bila Allah kehendaki, dia akan merasa bahwa shalat itu karunia / pemberian Allah, sehingga dia bersyukur.
bukan malah berharap mendapatkan balasan dari pemberian yang kamu terima itu
nauzubillah....
Oleh karena itu wahai anakku.....
camkan baik baik dihatimu, bahwa kamu hanya dapat berbuat maksiat saja bila Allah tidak memberi kamu petunjuk, semua amal baikmu itu adalah karunia Allah yang wajib kamu syukuri.
Ada sebuah kutipan hadis Qudsi:
'Wahai hambaKu, sesungguhnya kamu itu sesat, kecuali aku beri petunjuk"
'Wahai hambaKu, sesungguhnya kamu itu telanjang, kecuali aku beri pakaian"
.
Ada salah satu perkataan iblis kepada Allah.
" Akan aku sesatkan anak adam, hingga tidak akan Kamu dapati mereka bersyukur kecuali sedikit".
Maka apabila kamu telah merasa berbuat baik, shalat, puasa, zakat, haji, kapan kamu akan berterimakasih / bersyukur kepada Allah, tentu tidak kamu lakukan, kecuali hanya mengucapkan dengan lidahmu Alhamdulillahirrabbilalamiin. tapi hatimu merasa telah memberi persembahan kepada Allah yang maha tidak membutuhkan segala sesuatu..... nauzubillahiminzalik.
Bila itu yang kamu rasakan wahai anakku, maka bertobatlah yang sungguh sungguh sambil minta petunjuk Allah
" Man arrofan nafsahu, faqod arrofan robbahu"
"Siapa yang kenal dirinya(nafs), niscaya dia kenal Tuhannya"
ungkapan diatas sangat singkat, tapi bisa dipahami oleh yang diberi petunjuk oleh Allah, dan bisa menyesatkan, bagi siapa yang dikehendaki Allah sesat.
Pada Kalangan penempuh jalan sufi / tasyahuf, atau tarikat, ungkapan diatas diyakini dari Hadist Qudsi.
tapi juga sangat dekat dengan kalangan penempuh ilmu kebatinan.
Anakku...
Agar kamu tidak bingung, maka papa akan jabarkan pemahaman yang papa pahami:
Barang siapa yang kenal dirinya, niscaya dia kenal Tuhannya.
Bagi kalangan ilmu kebathinan, akan menjalani pengetahuan tentang diri manusia secara jasmani, yang terdiri dari kulit, daging, urat, tulang, dan seterusnya.
sehingga pada akhirnya mereka akan meyakini bahwa dirinya itulah tuhan, jadi siapa kenal dirinya, maka dia kenal tuhannya. sehinngga tidak sedikit yang dapat memiliki kesaktian dari pemahaman seperti ini
Tapi tidak dalam pemahaman papamu ini.
Papa sudah menempuh pengajian kebathinan dan tasyahuf, dan pemahaman papa bertentangan dengan pemahaman yang demikian.
Bagaimana mengenal Allah, yaitu dengan mengenal dirimu.
Apakah kamu sudah kenal dengan dirimu sendiri?
Siapa, darimana dan mau kemana kamu?
Anakku..
Ketahuilah, bahwa makhluk bersifat "Lahaula wala quata"
" tidak punya daya dan tidak punya kekuatan".
inilah sifat diri yang sebenarnya
"Karena tidak mempunyai daya untuk berbuat baik, dan tidak pula punya kekuatan untuk tidak maksiat"
Ketika Allah mengabarkan kepada malaikat, bahwa Dia akan menjadikan / menciptakan manusia sebagai khalifah dimuka bumi, kemudian Malaikat yang selalu patuh dan taat ini bertanya kepada Allah, Mengapa engkau menciptakan sesuatu yang akan membuat kerusakan dan tumpah darah dimuka bumi...
Jadi dari sini dapat sedikit kita melihat siapa kita sebenarnya, kita hanya dapat berbuat kerusakan dan keburukan.
Jadi bila kita melihat diri, maka kita akan melihat ahli maksiat,
Kemudian apabila Allah karuniakan petunjuk, maka kita seperti ahli kebaikan.
Kita manusia hanya dapat berbuat hal yang tidak benar dan baik, manusia bersifat salah,
manusia diliputi segala perbuatan maksiat.
Kemudian Allah memberi petunjuk kepada yang dikehendakinya, dan membiarkan sesat siapa yang dikehendakinya.
Manusia yang sudah disempurnakan dengan pertolongan Allah, menjadi " Lahaula wala quata ilabillah"
"tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah".
sehingga dia menjadi orang yang berterimakasih kepada Allah,
bila kamu merasa berbuat baik / beramal sholeh, tentu kamu akan berharap mendapat balasan dari apa yang telah kamu buat, sehingga kamu terjerumus ke jurang kekufuran yang tidak kamu sadari.
Tentu masalah pahala yang dijanjikan Allah pada alQuran adalah benar bagi yang belum mengenal dirinya sendiri, seperti anak anak, ketika anak anak dibujuk untuk belajar giat dengan janji akan diberi hadiah apabila memiliki nilai yang bagus, sehingga anak tsb belajar dengan semangat, padahal manfaat dari belajar itu adalah untuk dirinya sendiri, tapi karena dia belum mengerti, maka orang tua meiming imingi hadiah tsb, tapi setelah dia dewasa dan tahu bahwa belajar itu untuk dirinya, tentu tidak ada sedikitpun dia berharap hadiah dari orang tuanya, tapi justru berusaha untuk menyenangkan hati orangtuanya.
Demikian pula bagi orang yang baru belajar islam, pada awalnya dia diberikan ilmu tentang manfaat berupa pahala ketika melaksanakan shalat, sebab shalat bagi orang yang baru adalah sebuah beban, tapi ketika dia tau bahwa shalat itu adalah untuk dirinya sendiri, tentu dia sangat semangat melaksanakannya.
Kemudian bila Allah kehendaki, dia akan merasa bahwa shalat itu karunia / pemberian Allah, sehingga dia bersyukur.
bukan malah berharap mendapatkan balasan dari pemberian yang kamu terima itu
nauzubillah....
Oleh karena itu wahai anakku.....
camkan baik baik dihatimu, bahwa kamu hanya dapat berbuat maksiat saja bila Allah tidak memberi kamu petunjuk, semua amal baikmu itu adalah karunia Allah yang wajib kamu syukuri.
Ada sebuah kutipan hadis Qudsi:
'Wahai hambaKu, sesungguhnya kamu itu sesat, kecuali aku beri petunjuk"
'Wahai hambaKu, sesungguhnya kamu itu telanjang, kecuali aku beri pakaian"
.
Ada salah satu perkataan iblis kepada Allah.
" Akan aku sesatkan anak adam, hingga tidak akan Kamu dapati mereka bersyukur kecuali sedikit".
Maka apabila kamu telah merasa berbuat baik, shalat, puasa, zakat, haji, kapan kamu akan berterimakasih / bersyukur kepada Allah, tentu tidak kamu lakukan, kecuali hanya mengucapkan dengan lidahmu Alhamdulillahirrabbilalamiin. tapi hatimu merasa telah memberi persembahan kepada Allah yang maha tidak membutuhkan segala sesuatu..... nauzubillahiminzalik.
Bila itu yang kamu rasakan wahai anakku, maka bertobatlah yang sungguh sungguh sambil minta petunjuk Allah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar