Senin, 13 April 2015

Mengenal Allah

Ada sebuah ungkapan yang sebagian ulama berpendapat bahwa ini bukan Hadist Nabi yang shohih:
" Man arrofan nafsahu, faqod arrofan robbahu"
"Siapa yang kenal dirinya(nafs), niscaya dia kenal Tuhannya"

ungkapan diatas sangat singkat, tapi bisa dipahami oleh yang diberi petunjuk oleh Allah, dan bisa menyesatkan, bagi siapa yang dikehendaki Allah sesat.

Pada Kalangan penempuh jalan sufi / tasyahuf, atau tarikat, ungkapan diatas diyakini dari Hadist Qudsi.
tapi juga sangat dekat dengan kalangan penempuh ilmu kebatinan.

Anakku...
Agar kamu tidak bingung, maka papa akan jabarkan pemahaman yang papa pahami:

Barang siapa yang kenal dirinya, niscaya dia kenal Tuhannya.

Bagi kalangan ilmu kebathinan, akan menjalani pengetahuan tentang diri manusia secara jasmani, yang terdiri dari kulit, daging, urat, tulang, dan seterusnya.
sehingga pada akhirnya mereka akan meyakini bahwa dirinya itulah tuhan, jadi siapa kenal dirinya, maka dia kenal tuhannya. sehinngga tidak sedikit yang dapat memiliki kesaktian dari pemahaman seperti ini

Tapi tidak dalam pemahaman papamu ini.

Papa sudah menempuh pengajian kebathinan dan tasyahuf, dan pemahaman papa bertentangan dengan pemahaman yang demikian.

Bagaimana mengenal Allah, yaitu dengan mengenal dirimu.
Apakah kamu sudah kenal dengan dirimu sendiri?
Siapa, darimana dan mau kemana kamu?

Anakku..
Ketahuilah, bahwa makhluk bersifat "Lahaula wala quata"
" tidak punya daya dan tidak punya kekuatan".
inilah sifat diri yang sebenarnya

"Karena tidak mempunyai daya untuk berbuat baik, dan tidak pula punya kekuatan untuk tidak maksiat"

Ketika Allah mengabarkan kepada malaikat, bahwa Dia akan menjadikan / menciptakan manusia sebagai khalifah dimuka bumi, kemudian Malaikat yang selalu patuh dan taat ini bertanya kepada Allah, Mengapa engkau menciptakan sesuatu yang akan membuat kerusakan dan tumpah darah dimuka bumi...

Jadi dari sini dapat sedikit kita melihat siapa kita sebenarnya, kita hanya dapat berbuat kerusakan dan keburukan.
Jadi bila kita melihat diri, maka kita akan melihat ahli maksiat,
Kemudian apabila Allah karuniakan petunjuk, maka kita seperti ahli kebaikan.
Kita manusia hanya dapat berbuat hal yang tidak benar dan baik, manusia bersifat salah,
manusia diliputi segala perbuatan maksiat.

Kemudian Allah memberi petunjuk kepada yang dikehendakinya, dan membiarkan sesat siapa yang dikehendakinya.
Manusia yang sudah disempurnakan dengan pertolongan Allah, menjadi " Lahaula wala quata ilabillah"
"tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah".
sehingga dia menjadi orang yang berterimakasih kepada Allah,
bila kamu merasa berbuat baik / beramal sholeh, tentu kamu akan berharap mendapat balasan dari apa yang telah kamu buat, sehingga kamu terjerumus ke jurang kekufuran yang tidak kamu sadari.
Tentu masalah pahala yang dijanjikan Allah pada alQuran adalah benar bagi yang belum mengenal dirinya sendiri, seperti anak anak, ketika anak anak dibujuk untuk belajar giat dengan janji akan diberi hadiah apabila memiliki nilai yang bagus, sehingga anak tsb belajar dengan semangat, padahal manfaat dari belajar itu adalah untuk dirinya sendiri, tapi karena dia belum mengerti, maka orang tua meiming imingi hadiah tsb, tapi setelah dia dewasa dan tahu bahwa belajar itu untuk dirinya, tentu tidak ada sedikitpun dia berharap hadiah dari orang tuanya, tapi justru berusaha untuk menyenangkan hati orangtuanya.
Demikian pula bagi orang yang baru belajar islam, pada awalnya dia diberikan ilmu tentang manfaat berupa pahala ketika melaksanakan shalat, sebab shalat bagi orang yang baru adalah sebuah beban, tapi ketika dia tau bahwa shalat itu adalah untuk dirinya sendiri, tentu dia sangat semangat melaksanakannya.
Kemudian bila Allah kehendaki, dia akan merasa bahwa shalat itu karunia / pemberian Allah, sehingga dia bersyukur.
bukan malah berharap mendapatkan balasan dari pemberian yang kamu terima itu
nauzubillah....

Oleh karena itu wahai anakku.....
camkan baik baik dihatimu, bahwa kamu hanya dapat berbuat maksiat saja bila Allah tidak memberi kamu petunjuk, semua amal baikmu itu adalah karunia Allah yang wajib kamu syukuri.

Ada sebuah kutipan hadis Qudsi:

'Wahai hambaKu, sesungguhnya kamu itu sesat, kecuali aku beri petunjuk"
'Wahai hambaKu, sesungguhnya kamu itu telanjang, kecuali aku beri pakaian"

.
 Ada salah satu perkataan iblis kepada Allah.
" Akan aku sesatkan anak adam, hingga tidak akan Kamu dapati mereka bersyukur kecuali sedikit".

Maka apabila kamu telah merasa berbuat baik, shalat, puasa, zakat, haji, kapan kamu akan berterimakasih / bersyukur kepada Allah, tentu tidak kamu lakukan, kecuali hanya mengucapkan dengan lidahmu Alhamdulillahirrabbilalamiin. tapi hatimu merasa telah memberi persembahan kepada Allah yang maha tidak membutuhkan segala sesuatu..... nauzubillahiminzalik.
Bila itu yang kamu rasakan wahai anakku, maka bertobatlah yang sungguh sungguh sambil minta petunjuk Allah


Minggu, 12 April 2015

Hakikat Tauhid

                  Bismillahirrahmanirrahim
Tauhid adalah Keesaan Allah, atau dengan kata lain Bahwa yang ada satu satunya hanya Allah.
Kalimat Tauhid: Laillahailallah.
artinya " Tidak ada Illah selain Allah".

Arti kalimat Tauhid tergantung tingkat pemahaman penterjemah, dan terkadang meleset dari makna sebenarnya, ada yang menterjemahkan dengan penambahan kata yang sebenarnya tidak terdapat dalam kalimat tersebut, seperti:
 " Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah"
Arti seperti ini justru menjauhkan kita dari makna yang dimaksud dari kalimat "Laillahailallah", dan terkesan Allah ingin sekali disembah, dan manusia memberi persembahan, Ini sangat mengesankan Allah membutuhkan Makhluk, Padahal Makhluklah yang membutuhkan Allah, dan juga terkesan bahwa makhluk punya andil dalam perbuatan / berbuat sesuatu.

anakku...
Pahamilah Bahwa Allah itu sangat tinggi, sangat mulia, tempat bergantung segala sesuatu, yang menciptakan makhluk serta perbuatan makhluk.
Laillahailallah adalah pengakuan bathin yang menyatakan tidak ada illah, yang ada Hanya Allah saja.

untuk itu papa akan terangkan sedikit tentang "Illah" yang tidak papa terjemahkan diatas, sebab Illah disini bermakna sangat luas dan menyeluruh, Kalau boleh papa tekankan, Illah ini adalah sesuatu apapun selain Allah, Jadi segala sesuatu selain Allah, baik yang hidup, mati, terlihat/tidak terlihat dengan mata, Terasa / tidak terasa oleh pancaindra kita, dalam bentuk apapun, dimanapun dan kapanpun, ini adalah Illah.

Oleh karena itu, papa berharap kamu dapat memaknai kalimat tauhid itu dengan benar,
"Laillahailallah" bermakna "Tidak ada segala hal dan sesuatu, kecuali Allah".

Singkatnya yang ada itu hanya ALLAH semata mata.

Tujuh sifat allah yang dilimpahkan kepada manusia:
1. Hidup
2. Mengetahui
3. Berkehendak
4. Kuasa
5. Melihat
6. Mendengar
7. Berkata.
Nah jika sifat yang tujuh itu diambil oleh Allah, apa yang ada padamu?.
Tentu hanya sebuah patung manusia yang terdiri dari kulit Daging,urat dan tulang, yang sering kita sebut Mayat untuk sebutan pada manusia, dan bangkai untuk sebutan pada binatang,

Anakku...
Kalau kamu sudah mengerti dengan keadaanmu sebenarnya yaitu:
1. tidak Hidup atau mati
2. Tidak mengetahui atau bodoh
3. Tidak berkehendak atau pasif / pasrah
4  tidak.Kuasa atau lemah
5. Tidak melihat atau buta
6. Tidak mendengar atau Tuli
7. Tidak berkata atau bisu.

Kesimpulan Tauhid dari penjabaran diatas:
1. Tidak ada yang hidup, Allah yang Hidup
2. Tidak ada yang Tahu, Hanya Allah yang Tahu
3. Tidak ada yang berkehendak, Hanya allah yang berkehendak
4. Tidak ada yang Kuasa, Hanya Allah yang Kuasa
5. Tidak ada melihat, Hany Allah yang melihat
6. Tidak ada yang mendengar, hanya Allah yang mendengar
7. Tidak ada yang berkata kata, hanya allah yang berkata kata.

Oleh karena itu wahai anakku....

Tanamkanlah tauhid di batinmu, sehingga kamu benar benar menyerahkan kembali kepada Allah segala sesautu tanpa ada sisa, bagaikan orang mati, yang tidak dapat berbuat apapun,
Orang mati tidak dapat shalat, puasa, zakat, haji dan berbuat baik sedikitpun, orang mati benar benar pasrah dan menyerahkan diri tanpa dapat berbuat apapun.

Jadi bila tauhid mu sudah benar, maka kamu sudah tidak merasa berbuat baik sedikitpun, perbuatan baikmu itu adalah pemberian Allah, yang dengan itu kamu bersyukur atas pemberiannya itu, bukanya mengharap sesuatu
Segala sesuatu dan hal yang kamu alami adalah pemberian Allah, tanpa terkecuali, Kamu tidak dapat Shalat, kalau Allah tidak karuniakan Shalat itu kepadamu, Kamu Tidak dapat Puasa jika Allah tidak karuniakan puasa itu kepadamu, Kamu tidak dapat Berzakat, Berhaji, Jika allah tidak karuniakan kepadamu.

Jadi singkatnya Pahamilah bahwa segala perbuatan baik dan Ibadah-mu selama ini adalah semata mata karunia Allah saja, Bukan hasil dari Dirimu sendiri.

Ketika Shalat kita selalu membaca:," Inna Shalati, wanushuki, wamahyaya, wamamati, lillahirabbil`alamiin"
" sesungguhnya Shalatku, ibadah/ perbuatan baikku, hidupku dan matiku, Milik Allah tuhan semesta alam".
Ini menegaskan bahwa hal itu adalah bersunber dari Allah bukan dari dirimu, kemudian Allah tegaskan lagi;
"Lasyarikalahu, wabizalika ummirthu, waanna minnal muslimiiin"
" Tidak ada serikat/sekutu bagi Allah, dan aku diperintah untuk tidak menyekutukanNya, dan sesungguhnya aku termasuk golongan orang yang berserah diri".

ini menegaskan bahwa Allah tidak bersekutu, berserikat atau bersama sama dengan makhluk dalam semua hal, Jadi jika Shalatmu, ibadahmu, hidupmu dan matimu adalah milik Allah, maka jangan sekali kali kamu merasa ikut memilikinya, dan apabila itu kamu lakukan maka kamu telah berbuat bersama sama dengan Allah, dengan Kata lain kamu Berserikat dengan Allah didalam bathinmu, yang disebut dengan syirik halus, Segeralah Kamu bertobat dengan sungguh sungguh, dan kembali menyerahkannya kepada Allah, Bila hatimu sudah merasa sudah tidak berbuat hal itu kecuali atas karunia Allah, Mudah mudahan kamu  tergolong orang yang berserah diri (muslimin), aamiin....

Hal dan uraian diatas adalah uraian kesimpulan dari ilmu Tauhid,
Yang bila dijabarkan secara detil, akan membuat bingung dan membuka peluang salah paham

Dan apabila Kamu sudah benar benar bersih dari syrik, insyaAllah kamu dapat melalui tahap mengenal Allah